"Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan." – Thomas Fuller "Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan" -Thomas Jefferson "Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar" - Mother Teresa

Laman

Sabtu, 02 April 2011

Catatan Istri ku :The Story from Picture of My family

Anyway, saya selalu punya keinginan besar untuk menceritakan kisah hidup dan seluruh keluarga besar saya. Walaupun sebenarnya kisah kami biasa2 saja, tapi saya pikir toh masing2 orang punya pengalaman yang berbeda.
So, here I am, with a big passion for being a writer someday…. Who knows..
Hehehehe….. this is the story of my family and me. Nothing special but I love to share..!

It’s Me!

(foto ini dibuat di bajawa. saya bersama seorang sepupu berama Ovi)

I was born at 06 of May 1980. Di sebuah kota dingin kabupaten Ngada - Flores, Bajawa. Bajawa memiliki kondisi alam hijau dan nyaman. Letaknya diantara perbukitan. Bersih dengan penduduk yang ramah. Sejauh yang saya tahu, saya tak lama berada di Bajawa, nenek membawa saya dan mama pulang untuk tinggal bersamanya di Maumere. Saya memiliki darah Rote dari ayah kandung saya yang besar di Larantuka Flores Timur (saya tidak akan terlalu banyak membahas tentang orang ini, saya tak banyak mengenalnya.) dan sedikit darah Lio, dari ibu yang berasal dari sebuah kampung kecil bernama Pemo. Pemo adalah nama sebuah desa di Lio Timur, Wolowaru. Kampung ini terletak di atas bukit tepi jalan Negara Maumere-Ende sebuah kampunt tradisional dengan segelintir penduduk asli. Kami sering kesana mengunjungi kubur babo (sebutan orang lio untuk kakek). Setahu saya, mama dan seluruh keluarga sudah lama menetap di Maumere. Selain karena babo adalah anggota Polisi, terakhir bertugas di Maumere sebelum pension dan meninggal, juga karena nenek adalah orang asli Sikka Lela jadi sekalipun babo sudah meninggal nenek masih menetap di Maumere sampai sekarang.
When I was 3years old, my mother was merried again with ‘babe’, a guy from Padang-Sumatera Barat. And They are Muslim. So, sejak itu saya lebih banyak tinggal sama nenek.



Saya tumbuh dalam asuhan nenek yang tegas dan sangat disiplin. Jadi tak banyak pengalaman istimewah bisa saya dapat di luar, tapi lebih banyak saya dapatkan dalam keluarga besar saya. Jadi saya akan banyak bercerita tentang keluarga besar saya. Yang pasti saya bangga menjadi cucunya dan saya suka diri saya seperti ini. Sekalipun jaman sekolah banyak teman yg mencap saya kuper karena hampir tak pernah kumpul ato ikut kegiatan luar sekolah dengan mereka. Karena kalau bukan urusan sekolah nenek tak akan mengijinkan. Kalaupun urusan sekolah, harus pasti mulai dan selesainya jam berapa sehingga pulangnya harus tepat waktu!


My Little Family

(dari kiri mama memangku John, Eman, babe dengan upik di pangkuan, lalu aku dan tia)

I choose to live with my grandmother. She loves me anyway, sekalipun betapa keras kepalanya aku waktu kecil, and I think I am, my grandmother daughter… Kemudian saya dekat dengan ayah saya yang sekarang, sehingga saya tidak pernah memikirkan lagi bahwa dia adalah stepfather. 8 November 1984 lahirlah adik pertama saya, namanya Muthia Rosna Sari (Tia). She is so different with me. Coz she had a brown skin, black hair and good noise!

(ni foto dah lama banget jadi lupa waktunya. tapi kayaknya aku masih sd deh..)


Setelah kelahiran tia, mungkin nenek kasian tidak ada yang temani mama ngurus ade kecil, saya dikasih tinggal dengan mereka. 12 Juli 1986 keluarga kecil kami bertambah jumlahnya. Adik cewek lagi, Yulian Amran, nama kecilnya Upik (sebutan anak perempuan untuk orang Padang). Dia sedikit mirip denganku, setidaknya kami punya hidung yang sama. Hehe… tanggal 5 desember 2 tahun kemudian mama melahirkan seorang adik laki2, Herman Amran (nama waktu lahir Emanuel Amran, paman saya seorang pastor Emanuel yang menamainya karena tanggal lahir sama dengan tanggal lahirnya. Lalu mungkin karena nama itu terkesan terlalu Kristen, babe mengganti namanya menjadi Herman). Tapi sampai dewasa dia tetap dikenal sebagai Eman.


(masa SMA di syuradikara ende)


Hampir 3 tahun setelah kelahiran eman, kami mendapat seorang adik laki2 lagi. Namanya John Della Kruss! Saya tak tahu pasti kenapa namanya begitu. Kata nenek dia sangat mirip babo. Sebenarnya nenek tak terlalu setuju saya tinggal dengan mama, mungkin karena mereka semua muslim atau memang nenek tak pernah mau lama berpisah dengan saya (hal ini tetap berlangsung sampai saya dewasa). Jadi setelah adik2 saya agak besar, saya kembali bersama nenek lagi.


(para pria dalam keluarga)

I love my family, walaupun saya tak terlalu dekat atau jarang bersama mereka, but I still love them anyway…

My Sister n Brother

Masing2 kami punya watak dan karakter yang berbeda. Saya selalu bangga memiliki mereka. Tak banyak yang saya ingat tentang masa kecil kami, mungkin karena kami jarang bersama (yang ada dalam ingatan hanya masa kecil bersama sepupu2 saya yang serumah dengan nenek). Jauh di dasar hati, saya merasa masa kecil kami kurang begitu bahagia (mungkin hanya saya yang merasa begini, karena saya lebih banyak bersama nenek), menyedihkan! Mungkin itu makanya saya alam bawah sadar saya melupakan masa kecil.

(bertiga dengan adik2 perempuanku, upik dan tia)

Kami lebih dekat justru setelah beranjak remaja dan menjadi dewasa.
Terutama dengan 2 adik perempuan saya, walaupun sebenarnya jarak usia kami cukup jauh tapi kami terlihat sama besarnya.
Kami bertiga berbagi banyak hal. Teman mereka adalah teman saya juga. Apalagi masa remaja adalah masa2 dimana mama menjadi orang yang sangat keras dan tidak bisa diajak kerjasama. Disitulah kami saling mendukung dan mendengarkan.
Kadang saya terlalu protektif dan merasa bertanggungjawab, lalu saya mulai membatasi dan berusaha melindungi mereka. Tapi justru itu yang membuat kami bertengkar atau diam-diaman. Walaupun tidak berlangsung lama. Tapi rasanya sangat tak nyaman, mungkin karena kedekatan kami.


(Upik dan ponakan2nya)

Sifat saya selalu merasa tertua dan overprotektif, lalu tia lebih tenang dan tulus (dia lebih sering jadi penengah), kemudian upik sang pemberontak, sangat keras kepala (kami berdua punya sedikit persamaan disini) tapi baik hati… selalu ada sisi positifnya kan? Yang jelas kami saling melengkapi. Mungkin itulah gunanya saudara.

(foto ini diambil waktu usia pernikahan kami masih 2 tahun)

Tahun 2005 saya menikah dengan seorang anggota polri, Herikson Sitompul, dikaruniai seorang putri dan tia menyusul di tahun 2007. Suaminya juga anggota Polri di Resort yang sama dengan suami saya yaitu di kota maumere. Ia berasal dari Jawa, hanya orangtuanya sekarang menetap di Lombok NTB. Setelah saya menikah dan menetap di Asrama polres Sikka, Tia sering datang berkunjung ke rumah, disanalah mereka bertemu. Saya senang melihatnya bahagia dengan pilihannya, walau terkadang saya khawatir karena suaminya sampai sekarang masih suka minum, tapi sepertinya ia bisa mengatasi hal itu. Sekarang malah tia sedang mengandung anaknya yang kedua.

(pernikahan tia dan indra)


Sedangkan perempuan bungsu itu, saat ini masih bergelut dengan pekerjaan dan kesendiriannya. Saya pikir mungkin karena dia pernah kecewa dengan seorang ‘bencong selebor’ (hehe… dia pantas menerima sebutan itu), sehingga sampai sekarang dia masih belum memiliki hubungan yang pasti. Toh dia masih muda untuk berpikir serius. Terkadang ia kebingungan, tapi saya tau dia lebih mengerti apa yang dia butuhkan dan saya yakin dia mampu mengatasinya. Mama selalu protektif dengan kami bertiga sebelum saya dan tia menikah. Tapi bagusnya mama punya kepercayaan yang cukup pada kami, tidak terlalu parah sepeti protektifnya nenek. Buat nenek, siapa saja yang datang ke rumah perlu diinterogasi. Hehe…

(dari kanan, upik, jon dan sepupu kami yolan)

Dua adik saya yang cowok, mereka lebih menikmati hidup. Mungkin karena mereka cowok sehingga pergaulan mereka tidak terlalu dibatasi. Bergabung dengan grup band musik rock, teman2 mereka adalah remaja2 gila yang berpakaian serba hitam, memakai asesoris ala rocker sejati dan mendandani rambut serta wajah mereka layaknya rocker barat! Sekarang Eman adalah mahasiswa fakultas teknik di Jakarta.

(Eman dan Ertin)

Ia memiliki seorang kekasih yang manis dan cukup dekat dengan kami sekeluarga, dan sedang menyelesaikan kuliahnya di Yogyakarta. Namanya Ertin. Sedangkan Jon selepas SMA, dia hanya antusias menyelesaikan kursus drummer 6 bulan di Denpasar. Setelah kembali kesini, ia tak ingin kuliah lagi. Tak masalah, usianya masih 20 tahun, masih panjang perjalanannya. Satu yang pasti saya akan mendukung mereka apapun pilihan hidupnya jika itu yang terbaik dan membuat mereka bahagia. Semangatlah adik2ku… akan selalu kudoakan!

(waktu lebaran bersama mama, tia dan anaknya satya, saya dan nisa juga eman)

The Big Family

Ini keluarga besar saya. Kami sering saling becanda kalau lagi kumpul bahwa tak perlu undang orang luar kalau pesta, dalam keluarga saja dah ramainya minta ampun! Haha… tapi menyenangkan ada di tengah keluarga besar, serasa apa saja bisa teratasi.

My grandpa (babo), Matheus Della, berasal dari wilayah Lio Timur, kampong Pemo-Wolosoko, beliau seorang anggota Polri yang kemudian ditugaskan di daerah Ngada dan bertemu dengan wanita yang kemudian dinikahinya disana. Babo meninggal sebelum saya lahir, jadi saya tak banyak tahu tentang beliau. Tapi dari cerita semua orang, saya mengenal kakek sebagai figur bija dan lucu.


(di usia 20 tahun)


Grandma, Martina Meak, berasal dari Sikka-Lela. Namun orangtua grandma sudah lama menetap di Soa, kabupaten Ngada. Cerita tentang nenek akan saya buat dengan judul tersendiri, karena nenek orang paling istimewah dalam hidup saya. Sejauh yang saya tau, dari Ngada kakek ditugaskan di daerah Paga, lalu sebelum pension mereka pindah ke kota Maumere, sampai sekarang. Oya, mereka berdua dikaruniai 10 orang anak….
Putra pertama mereka, Agustinus John Parera, bekerja dan menetap di Jakarta, jauh sebelum saya lahir. Tapi saya cukup mengenalnya, karena beberapa kali saat kuliah di Yogya saya sering berlibur di rumah mereka di Jakarta. Istri om Agus (begitu kami menyebutnya) berasal dari Ambon, tante Tina. 3 anak mereka, Ares (yang tertua dalam keluarga besar kami), bekerja di Jakarta, Ellyn, dia satu2nya dalam keluarga itu yang sudah menikah, punya seorang putra (Jason) dan menetap di Australia bersama suaminya (Nick) pria asal Yunani. Dan Mario, sedang bekerja juga setelah selesaikan kuliahnya 2 tahun lalu. Kami kurang dekat, mungkin karena mereka jauh dan sesekali baru bertemu. Beberapa kali kesana, saya melihat mereka sangat akrab dengan keluarga dari tante tina.
Keahlian om Agus? Menjadi orang yang paling disegani dalam keluarga, bisa jadi karena putra tertua. Apapun alasannya klau om Agus dah bicara, tak ada lagi bantahan. Beliau punya kewibawaan dan kebijaksanaan yang kuat untuk memimpin seluruh keluarga setelah nenek. Sayang om Agus jarang pulang kesini. Keluarga disini jadi terpecah-pecah dan sering berselisih paham setelah nenek meninggal.
Putra kedua nenek, om Yuven, tidak saya kenal sama sekali. Beliau meninggal di usia yang masih sangat muda, jauh sebelum saya lahir. Kata mama waktu itu mama masih kecil.
Putri ketiga, Petrosa Dua Ate (kami memanggilnya, Mabes atau mama besar. Itu sebutan untuk anak tertua anak perempuan nenek tertua), dua kali menikah. Suami pertama, om Kobus Porang, meninggal tahun 1987. mereka memiliki 3 orang putra, Edwin Porang, hampir seusia saya beda 4 bulan, sekarang bekerja di Siemens Indonesia dan menetap di Denpasar. Dia sekeluarga baru saja pindah kesana setelah sebelumnya bertugas di Marauke, Manado dan Makassar. Edwin menikah dengan Ivone Gosal, wanita Manado, dikaruniai 2 orang anak, Vale dan Lourdes.

(Edwin dan keluarganya)

Putra Mabes kedua, Tens Della, bekerja di Jakarta. Tahun 2008 lalu Tens menikah dengan Novie Djawa, asal Kupang dan mereka punya seorang putra yang sangat lucu dan menggemaskan, Reinhart. Edwin dan tens inilah sepupu serumah, teman main saya saat kecil.

(Tens dan keluarganya)

Yang bungsu adalah Yolis Porang, dia baru saja diterima sebagai teknisi di BRI Maumere. Mabes menikah lagi di tahun 2003 dengan seorang Kapten Kapal Barang dari Solor, Alex Kein. Tapi karena usia, mereka tidak memiliki anak. Suami Mabes sendiri sudah punya 3 anak dari istri pertama.


(keluarga besar. dai kiri depan; om paul suami tante tin, yolis, tens, tino, tika, mario anaknya om jefry, tante tin, mama dan temannya, saya menggendong rein, yolan, upik dan temannya, mabes lagi ngbrol sama tante erna yang lagi gendong lourdes anaknya edwin, babe dan temannya, ivon, edwin sedang menggendong vale dan suamiku)


Mabes orang yang sangat bertanggungjawab dan peduli. Saya melihat di usia senja, beliau lebih banyak menghabiskan waktu untuk anak dan cucu2nya. Karenanya sudah jarang disini, tapi mabes masih memperhatikan kami sesekali kalau pulang ke maumere. Dalam keluarga besar, anak2 mabes adalah yang paling mapan dan berhasil. Kami paling sering menggodanya.


(om avi)

Putra keempat nenek, Flavianus Dinong Parera, adalah orang yang sangat bersahabat dan menyayangi keluarga. Saya mengenalnya dengan baik walau beliau tinggal dan bekerja diJakarta bersama keluarga. Istrinya, tante Susi, orang jawa. Anak mereka, Endril Parera (sekarang sedang kuliah, seusia Eman) dan Olivia sedang menyelesaikan SMA.

(tante susi dan Olivia)

Om Avi (begitu kami memanggilnya), dulu, cerita nenek, sangat pemberani dan terkenal nakal seantero kota. Sering berantem dan dibayar untuk jadi pembela teman2nya. Hehe… Sampai sekarang masih tetap begitu, hidup sederhana dan bahagia. Kami semua ponakan, sangat dekat dengannya. Bahkan Eman sekarang tinggal dengan mereka di Jakarta. Walau begitu sekarang beliau selalu jadi penengah dalam keluarga.
Yang kelima adalah mamaku, Erostina Ance. Dari suami pertama, Maxi Fa’ah, anaknya cuma saya sendiri, dari suami kedua Amran Muh. Nur, baru hadir adik2ku 4 orang itu, Tia, Upik, Eman dan John.

(mama dan babe)

Mama adalah satu2nya anak nenek yang pintar masak. Jadi tiap ada acara keluarga pasti mama yang paling sibuk. Mama punya cara sendiri mencintai anak dan cucu2nya. Walau kadang kami tak mengerti dan membantah, tapi setelah semua berakhir, kami tau, hanya mama yang paling mengerti yang terbaik untuk kami. Mama juga satu2nya anak nenek yang tak punya pendidikan yang baik, tapi kami berlima sangat bangga padanya.
Lalu anak nenek yang keenam, tante Veni, meninggal di usia balita, sangat jauh sebelum kami lahir. Jadi hampir tak ada cerita tentangnya.
Ketujuh adalah Emerensiana Philomena Della, tante Erna. Menikah dengan Yosef Keraf dan menetap di Maumere. Om Yos bekerja sebagai Pelaut kapal persiar. Dalam setahun kami hanya bertemu 1-2 kali dengannya. Anak2 mereka masih kecil2. yang tertua Tika, murid kelas 2 di SMP Frater Maumere. Lalu Tino masih duduk di bangku SD bersama adiknya Sheila. Yang bungsu Nopa, masih sekitar 4 tahun. Bisa jadi karena pernikahan mereka lama baru dikaruniai anak. Tante Erna adalah seorang yg paling ambisius dalam keluarga. Tapi beliau berusaha sendiri dengan suaminya. Sekarang mereka hidup mapan.
Nomor delapan, Anselmus Della, om yang paling dekat denganku. Sebelum nikah, om Aci (itu sebutan sayang kami) dan saya sering menghabiskan waktu bersama. Bagi saya om saya ini seniman gagal, hehe… ia tak bekerja tetap, lebih senang menghabiskan waktu dengan Mudika dan mengurus keperluan Gereja. Tapi tahun 2003 om aci menikah juga dengan tante Memy Darynia. Dan punya 2 orang putra, Pascal dan Valdi. Dari semua paman2ku, dia yang paling saya sayangi…

(om aci dan valdi)

Jefry Della, putra nenek yang kedelapan. Seorang yang paling temperamen dan tidak sabaran. Tapi hatinya baik. Om jefry menikah dengan orang Maumere, tante Lety, anak mereka Mario (9 thn) dan Chelsea (4 thn). Om saya yang satu ini paling sering berselisih dengan keluarga. Ada satu masalah yang muncul setelah nenek meninggal, tapi sekarang sepertinya sudah tak diungkit2 lagi. Apa karena mereka capek ato belum dapat inspirasi bahan pertengkaran. Hehe… kudoakan semoga saja mereka sudah melupakannya. Mereka hanya diam2an. Walaupun hubungan saudara2 yang lain sudah membaik, tapi om Jefry belum begitu rileks lagi dengan mereka. Saya selalu berharap nenek mau mendoakan kami agar bisa sedekat dan sekompak dulu saat nenek masih bersama kami. Semoga….


(om aci dan om jesy)

Yang bungsu Agustina Sara, tante Tin.. seseorang yang bangga menjadi dirinya sendiri dan tidak mau diremehkan. Ia menikah dengan orang Larantuka, pegawai Litbang Maumere, Paul Derosari. Tante Tin lebih dulu menikah dari om aci dan om Jefry. Makanya anak tante Tin, Yolan dan Yun sudah lebih dulu remaja.

(yolan dan yun)

Saya dan sepupu2? Kecuali dengan keluarga yang besar diJakarta, kami disini sangat dekat dan kompak. Apalagi pas ada kesempatan kumpul bersama, heboh! Hehehe…. Kami sering ketemu, tapi di facebook juga sering saling menggoda.

Lovely Grandmother…
Saya adalah cucu perempuan pertama dan cucu nomor dua setelah k’Ares. Karena k’Ares di Jakarta dan saya disini, di dekat nenek, jadi sayalah orang pertama yang mendapat perhatian dan cinta nenek.
Setelah Mama menikah lagi, nenek membawa saya tinggal bersamanya sejak balita. That’s why, saya tak bisa terpisah dengan nenek…

(masa sekolah dulu dengan teman2 dekat)

Hidup bersama nenek sebenarnya sangat melelahkan. Karena nenek orang yang keras dan sangat disiplin. Saya tak pernah bermain dengan teman sebaya/teman sekolah, apalagi tetangga. Saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan tante dan om saya dirumah. Baru setelah sepupu2 saya lahir, saya jadi punya teman bermain. Waktu masa sekolah dulu, saya tak punya banyak teman. Hanya beberapa teman dekat, hal ini karena kerasnya nenek dan saya hampir tak punya waktu untuk itu. Kebaikannya adalah saya tak pernah terlambat, selalu ontime karena nenek tak suka itu. Hal ini terbawa sampai sekarang. Karena sering di rumah, saya jadi sering baca dan tau banyak hal. Biar masih kecil, saya baca apa saja yang saya temukan. Saya tidak terbawa pergaulan aneh2, karena nenek selalu mengawasi. Teman laki ato perempuan ke rumah, pasti ditanyain macam2 sama nenek, sampai mereka sendiri tak bisa jawab dan kapok ke rumah lagi. Saya tumbuh menjadi wanita yang sangat mencintai keluarga. Karena saya lebih banyak di rumah, berkumpul dengan keluarga dan lebih punya waktu untuk mengenal seluruh keluarga saya.

(bersama teman2 kerja)

Sampai dewasapun nenek selalu menginterogasi siapa saja teman yang datang ke rumah menemui saya. Tak ada yang betah berlama2 menjadi teman saya. Dulu, kebiasaan nenek itu sangat mengganggu, buat saya malu, tak percaya diri dan kesal. Saya pikir, apanya yang salah? Kalau tak mau saya bergaul, mending tak usah sekolah atau tak usah kerja sekalian, di rumah saja. Tapi sekarang, setelah menikah dan punya anak, saya jadi mengerti gunanya itu semua. Saya ingin terapkan ke Nisa, tapi tidak seluruhnya. Pastinya disesuaikan dengan jaman dong! Satu kebiasaan nenek yang tak terlupakan sejak saya kecil, adalah rajinnya nenek berdoa pada Bunda Maria. Dan dalam setiap doa nenek, saya selalu mendengar nenek menyebut nama semua anak, mantu dan cucunya.

(bersama suami, anak dan mertua di pernikahan adik iparku netty)

Buat saya, nenek adalah sosok panutan yang luar biasa. Dengan gaji pensiunan pas2an di tahun 60an, nenek bisa menghidupi dan menyekolahkan 10 orang anak. Wanita yang tangguh! Orang dulu memang hebat yah… saya selalu bangga dengan Jiwa sosial dan perhatian nenek pada orang lain, selain keluarganya. Itulah yang membuat nenek cukup terkenal di kota ini. Sapa yang tak kenal Oma Della (di maumere nenek dikenal dengan nama suaminya). Waktu saya kecil, nenek membawa banyak orang datang tinggal bersama kami. Ada orang dari kampung kakek, dari Bajawa, Ende, bahkan Palue, pernah ada yang sakit jiwa.

(piknik keluarga masa remaja dulu)

Entah dimana nenek mengenal dan menemukan mereka. Banyak kejadian lucu yang masih terbanyang sampai sekarang. Saya ingat seorang kakak dari palue yang tinggal bersama kami, namanya Nona. Dia sangat lucu dan menyenangkan. Suatu saat nenek sedang marah besar, entah karena apa, lalu dia menutup kepalanya dengan ember bak besar, memegang gayung lalu mulai berjalan dan menari sambil memukul2 gayung di ember. Hahahaha… Semua ketawa dan nenek tak jadi marah… saat saya pindah ke asrama polisi dan nenek datang berkunjung, nenek cerita kalau dulu asrama polisi tuh hanya berupa bangunan los panjang lalu disekat dengan tripleks untuk memisahkan kamar dan sedikit ruang tamu untuk tiap2 keluarga. Kamar mandi dan dapur adalah kamar mandi dan dapur umum. Wah, gak kebayang kalau hal itu bertahan sampai sekarang. Aku gak bakal mau tinggal di aspol. Hehehe….

(tampang erik sitompul jaman muda dulu... hehe...)

Ada satu keluarga saudara sepupu dari babo, kakek Tibo, yang tinggal bersama nenek. Hidup mereka susah dan kakek Tibo sering sakit2. Jadi nenek buatkan sebuah rumah kecil di halaman belakang rumah kami. Anaknya banyak dan waktu itu sudah besar2. Istri kedua kakek ini lari dengan pria lain. Neneklah yang mengurusinya. Sebenarnya nenek bisa saja tidak mengurusi anak2 kakek setelah kakek Tibo tiada, toh mereka sudah dewasa. Tapi malahan nenek juga mengurusi istri kedua kakek itu yang ditinggal oleh suami keduanya. Sampai anak2nya bekerja dan menikah, nenek masih membantu mereka. Satu hal yang tidak pernah saya terima, adalah masalah saat salah satu anak perempuan almarhum kakek Tibo, Rina, dilamar. Karena nenek merasa yang bertanggungjawab menggantikan orang tua, jadi nenek mengurusi semua keperluaan waktu itu. Mungkin merasa tidak mendapat bagian dari belis (mahar yang harus dibayar pihak pria untuk keluarga wanita) sesuai harapan mereka, saudara2 tanta Rina malah melaporkan nenek ke pihak berwajid dengan tuduhan menghabiskan mahar saudari mereka. Lalu mereka pergi begitu saja. Tapi nenek tak pernah dendam, saat sudah tak punya apa2 lagi mereka datang kembali, nenek tetap menerima.

(my angel di usia 3 tahun)

Dari semua orang yang sering datang ke rumah, salah satu yang jadi kesayangan nenek, adalah bos saya sekarang. Pater Eman Weroh. Selain sudah akrab dengan nenek, pater eman juga masih keluarga Babo dari Wolosoko. Jadilah nenek makin sayang.

(bersama pater eman dan tamu dari belanda tante tina seeger dan suami)

Pernah ada juga teman2 om saya dari Bajawa yang rame2 datang ikut test PNS disini. Mereka tinggal di rumah dan nenek mengurus mereka seperti anak sendiri.
Itu hanya sepenggal kisah nenek dengan anak2 angkatnya. Mereka tak pernah melupakan nenekku. Kebaikan dan cinta yang nenek tanam, mungkin tidak pernah nenek tuai, tapi kami yang menuainya… kemanapun kami pergi, kalau ada yang mengenal pasti nenek, pasti kami akan mendapat bantuan dengan kata2, nenekmu orang baik, kami pernah dibantunya.

(dengan teman2 sesama bayangkari polres sikka)

Saat saya memutuskan menikah dengan bapanya vanisa, nenek marah dan tak mau bertemu saya. 1 tahun saya hidup tanpa nenek. Saya tau nenek tak akan memaafkan saya. Bukan hanya soal beda prinsip, tapi juga kebohongan2 saya selama itu… saya cucu yang dia banggakan dan selalu menjadi andalannya. Ia mengajarkan saya kebijaksanaan dan sikap menghargai keluarga, tapi saya membalasnya dengan meninggalkan dia dan keluarga besar saya! Betapa saya menyesalinya nek…! Tapi dengan kebesaran hati dan cintanya, ia menerima saya kembali, bahkan meminta maaf karena pernah marah2 pada kami dan mendoakan kebahagiaan saya di saat2 terakhirnya. Masih teringat moment itu di rumah sakit umum maumere, suara nenek masih terngiang sampai sekarang. Tak akan pernah kulupakan! Sebelum meninggal nenek berkeliling mengunjungi anak dan cucu2nya. Nenek hampir 3 bulan di Jakarta, ke papua karena waktu itu Edwin bertugas disana. Lalu di kupang, bersama upik dan anak2 dari sepupu2 nenek di bajawa. Bahkan bersama kami di maumere, nenek nginap di tiap2 rumah masing2 1 minggu. Semua ini tidak kami sadari sebelumnya, baru setelah nenek pergi kami mengerti. Tak akan ada habisnya menulis tentang nenek… tak ada kalimat yang pas melukiskan betapa besar cinta dan rasa bangga saya memilikinya.

(jalan2 sama mabes, rein, nisa, tante tin dan novie)

Ketika nenek selama 3 bulan keluar masuk rumah sakit, saya sudah menyadari tak banyak kesempatan bersamanya lagi. Tiap kali mengunjunginya ke ruma sakit, nenek bercerita kalau sedang bersama suami dan anak2 yang sudah meninggal. Di saat lain nenek bilang dikunjungi orang tuanya. Menjelang hari2 terakhir nenek minta pulang ke rumah, katanya tak mau meninggal di rumah sakit. Sampai menyuruh kami semua menginap bersamanya di rumahnya. Pada suatu hari hujan di bulan November, walau sudah mempersiapkan diri untuk perpisahan itu, tetap saja terasa sakit harus menerima kenyataan bahwa nenek pergi untuk selamanya. Meninggalkan begitu banyak cinta dan kebaikan yang tak akan bisa dibalas…
Tuhan, tolong sampaikan pesanku padanya, semua yang nenek ajarkan dulu sangat berguna dan benar adanya. Saya selalu mencintainya dan tak akan pernah melupakan kenangan bersamanya. Saya mendoakan kebahagiaan nenek bersamaMu di surga. Dan semoga nenek juga selalu mengenang saya dalam doa2nya seperti yang selalu dilakukan di masa hidupnya.


(piknik keluarga. dari kiri tante tin lagi gendong satya, saya, upik dan tante erna)

Setiap bulan di tanggal 9, sadar atau tidak, entah kenapa saya selalu merasa sedih dan teringat pada nenek.

(berseragam kebaya bayangkari dengan tia)


Nenek adalah awal dan akhir cerita keluarga besarku. Setiap kali mengingat keluarga hal pertama yang terlintas adalah nenek. Saya punya ikatan yang kuat dengannya, mungkin karena sejak kecil bersama nenek. Saat SMA saya sekolah di Ende, tahun ketiga saya pulang karena tak tahan jauh darinya, jadi sakit terus. Sebelum studi ke yogya nenek sempat membujuk untuk tetap tinggal, katanya akan dikasih apa saja yang saya mau asalkan jangan pergi. Waktu kuliah di yogya, nenek menunggu saya selesai ujian akhir dan langsung menjemput pulang ke maumere. Saya sempat kerja 1 tahun di Manggarai. Nenek melakukan apa saja sampai saya akhirnya kembali ke maumere. Tanggal pernikahan saya sama dengan tanggal meninggal nenek, tanggal 9. Walau itu tak terlalu berarti, tapi buat saya itu sangat penting! Nenek berlutut di depan patung Bunda Maria saat saya berjuang di rumah sakit untuk melahirkan, walau saat itu kami belum bertemu karena saya pergi dari rumah, tapi saya merasakannya dan menjadi sangat kuat melewati situasi itu. Saat vanisa sakit parah di rumah sakit dan hampir saja kami kehilangan dia, nenek berlutut, berdoa sambil menangis dalam ruangan itu. Memohon pada Tuhan agar menyelamatkan cucunya. Kekuatan doa nenek tiada taranya. Itulah yang selalu menguatkan saya.

(foto ini diambil di tempat kerja saya di ruteng bersama seorang wartawan rekan kantoran)

Keluargaku kini lebih sering sendiri2. Masih ada beberapa yang tetap peduli menjaga ikatan. Tapi tak ada yang sama ketika nenek masih ada. Akan tetapi saya bangga memiliki keluarga ini. Entah kapan kami bisa kumpul bersama lagi, akan tetap kudoakan saat2 itu kembali dalam kehidupan kami!

(my little family)


(happy family)
»»  BACA SELENGKAPNYA DISINI...