"Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan." – Thomas Fuller "Jika Anda menginginkan sesuatu yang belum pernah anda miliki, Anda harus bersedia melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan" -Thomas Jefferson "Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar. Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar" - Mother Teresa

Laman

Rabu, 22 Agustus 2012

Catatan istriq II :Mitos atau Pemalinya orang Maumere

Sebenarnya Pengetahuan saya tentang hal ini tidak terlalu banyak, tapi dah lama pengen tulis sesuatu lagi di blog. Trus barusan habis ngobrol sama tante yang jagain anak2 (narasumber dadakan.. hahaha), ngomong deh tentang pemali-pemali di dalam masyarakat Maumere.. hmm.. jadi pengen tulis lagi.
Mitos atau mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi  oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia  lain (kahyangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar  terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitologi, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia, atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos bisa berupa cerita ataupun kepercayaan2 sederhana dalam masyarakat. Di setiap wilayah pasti ada mitosnya. nah buat orang Maumere, Mitos atau dalam bahasa Maumere disebut Pire (pemali) lumayan banyak yang dijadikan tuntunan hidup sehari-hari atau arahan orang tua buat anak2. Karena saya besar dan menetap di Maumere ada beberapa mitos yang saya dengar disini. Hal2 ini tidak akan bisa dijelaskan secara logis, karena kalau logis bukan mitos kan namanya?

Contoh2 Pire yang saya dengar sejak kecil:
* Anak2 dilarang bermain sembunyi2 (inggo dalam bahasa sini) jika hari sudah gelap. karena nanti terjadi 'Ledu'. Artinya dibawa 'setan' atau anggota keluarga yang sdah meninggal. Saya pribadi pernah mengalami hal ini waktu kecil, ( ini kejadian saya ingat sampai sekarang dan jadi trauma kalau lihat anak saya main sembunyi2..). Saking asyiknya maih sembunyi sama sepupu2, lupa kalau dah maghrib dan gelap sekali. padahal kami mainnya dalam rumah. tiba2 salah satu sepupuku menghilang. udah dicari kemana2 tidak ketemu2, sampai tengah malam.. kita semua udah nangis apalagi sambil diomelin nenek dengan cerita2 itu.. akhirnya setelah bakar lilin dan berdoa di foto keluarga yang dah meninggal sepupu saya yang paling kecil tiba2 aja lihat dia di bawah tempat tidur. beneran, padahal dari tadi udah bolak-balik disana.
* Jangan meniup bunyi2 nyaring di malam hari. Karena itu berarti kita sedang memanggil  makluk halus dalam rupa ular. hiii.. serem yah...
* Biasanya kalau ada keluarga dekat yang meninggal, anak2 kecil terutama bayi digosok arang hitam di dahi. Katanya itu untuk melindungi dari oarang yg sudah mati itu. Kalau tiba2 anak2 nangis tidak berhenti tanpa sebab juga, itu berarti 'diikuti' sama yg mati. Kalau udah gitu, syaratnya orang tua harus ngomong sama yang sudah mati. Tidak masuk akal sekali kan?????
* Waktu saya masih SD ada sejenis binatang kecil bersuara nyaring, kami disini menyebutnya 'Tireng'. Saya kurang tau disebut apa dalam bhasa Indonesia, modelnya kayak tawon tapi tidak ada sengatnya. Binatang ini katanya kalau ditanam dalam tanah beberapa hari bisa berubah jadi uang. Tidak pernah kejadian sih, haha.. tapi namanya juga anak2, senang aja melakukannya...
* Kalau bersihkan atau menyapu rumah, harus dari depan ke belakang jangan menyapu ke arah depan rumah karena itu artinya tolak rejeki. jadi rejeki itu harus masuk dulu dalam rumah sampai ke belakang gitu deh..
* Dilarang meminjamkan bumbu2 dapur kayak garam, jahe dll ke orang luar pada malam hari. walaupun orang yang minjam itu sodara sendiri. Katanya sih kalau kita berdagang apa saja, dagangan kita susah lakunya...
* Khusus buat laki2, kalau ditawarin moke (minuman khas orang Maumere) oleh tuan rumah atau tuan pesta tidak boleh nolak dengan alasan apapun.

Khusus buat orang hamil/bayi baru lahir, Pirenya ada lagi.. antara lain yang saya tau...
* Tidak boleh duduk di pintu rumah. Katanya nanti susah melahirkan
* Jangan makan langsung dari cobe (ulekan) atau periuk. Ntar anaknya hitam atau mukanya kayak cobe.
* Jangan pake pakaian warna hitam selama hamil. karena itu bisa membawa hal buruk buat jabang bayi nantinya.

Ini hanya sebagian kecil mitos yang saya tau berkembang dalam masyarakat Maumere. Kalau mau dicari tau pasti lebih banyak lagi.. oya, untuk sekedar tahu, ada nih mitos yang saya dengar menjadi kepercayaan masyarakat daerah Lio, tetangganya Maumere.. malah katanya orang Lio lebih banyak lagi pemalinya.
* Dalam masyrakat Lio, ada makanan ato sayur2an dan lauk tertentu yang tidak boleh dimakan, kalau sampai dimakan bisa kena penyakit yang aneh2. Kalaupun sampai terkena, syaratnya harus masuk ke rumah adat dulu dan minta maaf sama nenek moyangnya baru penyakitnya bisa sembuh.
* Orang Lio juga tidak boleh sembarang memanggil nama ipar atau kandung dari pasangan mereka. wah, bisa jadi petaka katanya... banyak sih contohnya, kalau ditulis disini gak habis2 dah..!
* Mertua tidak boleh angkat jemuran pakaian mantunya. kalau ini sih saya tidak setuju sekali, kalau hujan gimana??

Semua di atas hanya sebagian kecil contoh mitos di Maumere. Saya sendiri senang mencari tahu tentang mitos. kalau berkunjung ke suatu daerah hal pertama yang saya tanyakan adalah mitos setempat. Kalau soal percaya atau tidak, saya lebih suka percaya pada segala sesuatu yang bisa dijelaskan secara logis. Tapi saya bukan orang yang suka mengabaikan nasihat orang tua, jadi kalau dilarang-larang dengan alasan yg tidak logis saya ikut saja... dari pada kena ngomel... hehe...
»»  BACA SELENGKAPNYA DISINI...

Jumat, 25 Mei 2012

Polisi Belanda , Polisi paling lunak di dunia

Polisi Belanda sudah dikenal di dunia internasional sebagai polisi paling “lunak” di dunia. Mereka terbiasa mengedepankan dialog dalam menyelesaikan segala persoalan. Penggunaan kekerasan sangat dihindari oleh polisi Belanda. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh polisi Belanda sendiri, satu dari empat polisi Belanda menghindari penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan segala persoalan, mulai dari kasus seperti perkelahian, perampokan, dan kerusuhan. Lunaknya Polisi Belanda dipengaruhi oleh sistem pendidikan di Kepolisian Belanda, yang sedikit memberikan pelajaran mengenai cara-cara penggunaan kekerasan. Setelah berdinas pun, mereka juga tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan latihan menembak, yang menyebabkan polisi Belanda tidak menggunakan kekerasan secara berlebihan.
Selain minimnya pelatihan penggunaan kekerasan, dialog telah menjadi budaya polisi Belanda dalam menyelesaikan masalah. Polisi Belanda hanya akan menggunakan kekerasan jika memang sangat terpaksa. Walaupun dinilai terlalu lunak dan terlalu sopan, bahkan dijuluki “domba yang berseragam”, polisi Belanda tetap berusaha menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat tanpa kekerasan. Hal tersebut dikarenakan polisi Belanda menerapkan pemolisian yang sesuai dengan perkembangan masa kini yang lebih humanis dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Pendidikan polisi di Belanda mendidik agar petugas polisi menghadapi suatu keadaan dengan mendahulukan dialog, baik dalam kasus penyanderaan atau bentuk kekerasan lainnya.
Membudayanya kelunakan di kepolisian Belanda menjadikan cara-cara penggunaan kekerasan menjadi hal yang tabu untuk dilakukan oleh mereka. Hal ini karena pemeriksaan terhadap pelanggaran bagi anggota polisi yang menggunakan kekerasan berlangsung sangat panjang dan terperinci. Selain itu, adanya ketakutan di benak setiap anggota polisi Belanda jika terpaksa melakukan kekerasan yaitu selama beberapa pekan mereka akan bertanya-tanya apakah mereka akan diperkarakan atau tidak? Apakah pimpinan mereka akan mendukung perbuatannya atau tidak? Oleh karena itu, untuk menghindari hal yang tidak diharapkan tersebut, setiap anggota polisi Belanda akan memilih tidak menggunakan jalan kekerasan jika masih memungkinkan. Hal ini dilakukan karena pimpinan mereka pun tidak akan mendukung anggotanya yang menggunakan kekerasan, bahkan cenderung akan menuntut anggotanya dan menganggap rendah bawahannya yang menggunakan jalan kekerasan.
Contoh real penghindaran penggunaan kekerasan terlihat ketika polisi Veendam (Distrik Groningen) mencoba untuk mencegah tawuran antar dua sekolah dengan menggunakan Twitter. Ketika siswa dari sekolah Winkler Prins dan Ubbo Emmiuscollege akan saling berseteru, polisi mencoba mencegah pergerakan para siswa tersebut melalui Twitter, dengan memberitakan kepada para siswa yang akan tawuran bahwa mereka telah mengetahui rencana tawuran dimaksud. Pemberitahuan tersebut membuat para siswa berpikir ulang untuk melakukan aksi tawuran.
Walaupun penggunaan kekerasan oleh anggota Polisi Belanda sangat minim, namun hal tersebut menjadikan Belanda negara paling aman, dengan tingkat kekerasan dan tindak kriminal di jalanan yang rendah. Polisi Belanda sangat ramah dan senang menolong, terlebih kepada warga negara asing. Apabila ada warga negara asing yang menghubungi polisi namun memiliki kendala bahasa, mereka akan membantu mencarikan seseorang yang dapat mengerti dan berbicara sesuai bahasa warga negara asing tersebut tanpa dikenakan biaya. Dalam kondisi darurat yang mengancam atau akan terjadi tindak kejahatan, Polisi Belanda mudah dihubungi melalui nomor telepon bebas pulsa 112. Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika tingkat kekerasan dan kejahatan kriminal di jalanan di Belanda sangat rendah, dan masyarakatnya benar-benar merasa dilindungi dan dilayani oleh polisi, yang memiliki moto dalam bertugas “selalu mengupayakan penyelesaian dengan berbicara”.

sumber : http://abdillahrifai.com/polisi-belanda-paling-lunak-di-dunia.html
»»  BACA SELENGKAPNYA DISINI...