Polisi Belanda sudah dikenal di dunia
internasional sebagai polisi paling “lunak” di dunia. Mereka terbiasa
mengedepankan dialog dalam menyelesaikan segala persoalan. Penggunaan
kekerasan sangat dihindari oleh polisi Belanda. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh polisi Belanda sendiri, satu dari empat
polisi Belanda menghindari penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan
segala persoalan, mulai dari kasus seperti perkelahian, perampokan, dan
kerusuhan. Lunaknya Polisi Belanda dipengaruhi oleh sistem pendidikan di
Kepolisian Belanda, yang sedikit memberikan pelajaran mengenai
cara-cara penggunaan kekerasan. Setelah berdinas pun, mereka juga tidak
memiliki banyak waktu untuk melakukan latihan menembak, yang menyebabkan
polisi Belanda tidak menggunakan kekerasan secara berlebihan.
Selain minimnya pelatihan penggunaan
kekerasan, dialog telah menjadi budaya polisi Belanda dalam
menyelesaikan masalah. Polisi Belanda hanya akan menggunakan kekerasan
jika memang sangat terpaksa. Walaupun dinilai terlalu lunak dan terlalu
sopan, bahkan dijuluki “domba yang berseragam”, polisi Belanda tetap
berusaha menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat tanpa
kekerasan. Hal tersebut dikarenakan polisi Belanda menerapkan pemolisian
yang sesuai dengan perkembangan masa kini yang lebih humanis dan
menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM). Pendidikan polisi di Belanda
mendidik agar petugas polisi menghadapi suatu keadaan dengan
mendahulukan dialog, baik dalam kasus penyanderaan atau bentuk kekerasan
lainnya.
Membudayanya
kelunakan di kepolisian Belanda menjadikan cara-cara penggunaan
kekerasan menjadi hal yang tabu untuk dilakukan oleh mereka. Hal ini
karena pemeriksaan terhadap pelanggaran bagi anggota polisi yang
menggunakan kekerasan berlangsung sangat panjang dan terperinci. Selain
itu, adanya ketakutan di benak setiap anggota polisi Belanda jika
terpaksa melakukan kekerasan yaitu selama beberapa pekan mereka akan
bertanya-tanya apakah mereka akan diperkarakan atau tidak? Apakah
pimpinan mereka akan mendukung perbuatannya atau tidak? Oleh karena itu,
untuk menghindari hal yang tidak diharapkan tersebut, setiap anggota
polisi Belanda akan memilih tidak menggunakan jalan kekerasan jika masih
memungkinkan. Hal ini dilakukan karena pimpinan mereka pun tidak akan
mendukung anggotanya yang menggunakan kekerasan, bahkan cenderung akan
menuntut anggotanya dan menganggap rendah bawahannya yang menggunakan
jalan kekerasan.
Contoh real penghindaran
penggunaan kekerasan terlihat ketika polisi Veendam (Distrik Groningen)
mencoba untuk mencegah tawuran antar dua sekolah dengan menggunakan Twitter.
Ketika siswa dari sekolah Winkler Prins dan Ubbo Emmiuscollege akan
saling berseteru, polisi mencoba mencegah pergerakan para siswa tersebut
melalui Twitter, dengan memberitakan kepada para siswa yang
akan tawuran bahwa mereka telah mengetahui rencana tawuran dimaksud.
Pemberitahuan tersebut membuat para siswa berpikir ulang untuk melakukan
aksi tawuran.
Walaupun
penggunaan kekerasan oleh anggota Polisi Belanda sangat minim, namun
hal tersebut menjadikan Belanda negara paling aman, dengan tingkat
kekerasan dan tindak kriminal di jalanan yang rendah. Polisi Belanda
sangat ramah dan senang menolong, terlebih kepada warga negara asing.
Apabila ada warga negara asing yang menghubungi polisi namun memiliki
kendala bahasa, mereka akan membantu mencarikan seseorang yang dapat
mengerti dan berbicara sesuai bahasa warga negara asing tersebut tanpa
dikenakan biaya. Dalam kondisi darurat yang mengancam atau akan terjadi
tindak kejahatan, Polisi Belanda mudah dihubungi melalui nomor telepon
bebas pulsa 112. Dengan kondisi tersebut, tidak heran jika tingkat
kekerasan dan kejahatan kriminal di jalanan di Belanda sangat rendah,
dan masyarakatnya benar-benar merasa dilindungi dan dilayani oleh
polisi, yang memiliki moto dalam bertugas “selalu mengupayakan
penyelesaian dengan berbicara”.
sumber : http://abdillahrifai.com/polisi-belanda-paling-lunak-di-dunia.html
sumber : http://abdillahrifai.com/polisi-belanda-paling-lunak-di-dunia.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar